Selasa, 21 Mei 2013
home / berita / nasional / kisah bandit sakti di batavia tewas dijepit bambu
Proyek simulator belum jalan, BNI kabulkan kredit Budi Susanto
Tim SAR Temukan 5 Jenazah dari Reruntuhan Tambang Emas di Papua
Dahlan: Program direksi BUMN mengajar setahun jadi dua kali
Presiden Yudhoyono Tunjuk Chatib Basri Sebagai Menkeu
Presiden Perintahkan Investigasi Longsor di Wilayah Tambang Freeport
ICAIOS Adakan Konferensi Global Tentang Aceh dan Samudera Hindia
Penjara Sukamiskin Tampung Banyak Koruptor
Rata-rata pendidikan orang Indonesia 5,8 tahun atau tak lulus SD
Tinjau lokasi longsor, Priyo minta Freeport santuni korban
Puluhan dokter muda berdemo di Bundaran HI, tolak politisasi
Kisah bandit sakti di Batavia tewas dijepit bambu.
Nasional | Jumat, 06 Juli 2012 | 12:56    Dibaca 198 kali    Komentar
Oleh : MN3, manadonews.com
Pengangkutan bambu di Kwitang. Tropen museum

Di era kolonial Belanda, nama Sakam tak asing di telinga kepolisian Belanda. Saat itu, Sakam merupakan seorang bandit yang sangat diburu oleh polisi di Batavia (Jakarta) dan Serang.
Sakam terkenal licin dan lihai menghindari buruan polisi. Namun, kabar gembira datang bagi kepolisian Belanda, pada September 1886 dua orang asal Banten ditangkap di Gang Petjenongan. Satu di antaranya diduga Sakam.
Dalam buku 'Figures of Criminality in Indonesia, the Philippines, and Colonial Vietnam' karya Rudolf Mrazek, bahkan disebutkan, kabar tertangkapnya Sakam menjadi pembicaraan hangat para pejabat Belanda di Balai Kota Batavia.

Meski mata-mata polisi mengatakan pria itu adalah Sakam, saksi lainnya tidak meyakininya. Polisi kemudian meminta keterangan dari sejumlah bandit, salah satunya bandit asal Tangerang. Dalam kesaksiannya, bandit itu menyatakan pria yang ditangkap polisi itu bukanlah Sakam. Sebab, menurutnya Sakam memiliki ilmu menghilang, karenanya tak mudah untuk ditangkap.
Walau sejumlah kesaksian menyangsikan pria yang ditangkap itu adalah Sakam, kepolisian Belanda tetap menahannya. Enam bulan kemudian, tepatnya April 1887, proses persidangan terhadap pria yang diduga Sakam dimulai di Balai Kota Batavia (sekarang Museum Fatahillah).
Dia langsung menghadapi dua tuduhan pembunuhan sekaligus sehingga kasusnya ditangani oleh dewan hakim (Omgaand Gerecht). Lebih dari 1.000 orang berkumpul di depan gedung untuk menyaksikan persidangan.

Dalam persidangan, pihak kepolisian Batavia berusaha meyakinkan dewan hakim bahwa orang tersebut adalah Sakam. Mereka mengaku telah menyusun rencana penangkapan Sakam bersama mata-mata pribumi, karena sudah mengetahui Sakam akan datang ke Batavia. Pihak kepolisian kemudian mengklaim berhasil menangkap Sakam saat sedang tertidur pulas.
Saat itu, seorang mata-mata wanita pribumi mencuri keris yang dapat membuat Sakam menghilang. Wanita itu kemudian juga ditangkap untuk memberikan kesaksian. Seorang wanita yang dihadirkan sebagai saksi oleh kepolisian Batavia kemudian menyatakan pria itu adalah Sakam. Wanita itu adalah seorang janda yang suaminya menjadi korban pembunuhan Sakam.

Namun, pria yang diduga Sakam itu membantah pengakuan kepolisian Batavia dan janda itu. Kepada dewan hakim ia mengaku sebagai Soeheirie, bukan Sakam, yang bekerja sebagai mata-mata kepolisian Banten. Soeheirie kemudian mengungkapkan sebuah kebenaran. Ia mengaku ditugaskan ke Batavia untuk melacak Sakam, namun dalam perjalanan ia justru ditangkap dan dikirim ke Batavia sebagai Sakam.
Kesaksiannya mendapat dukungan dari pejabat kepolisian Banten yang menyatakan dirinya bukanlah Sakam. Akhirnya, Sakam palsu alias Soeheirie pun dibebaskan. Hal itu lantas mempermalukan dan menggagalkan skenario kepolisian Batavia.

Ratusan warga antusias menyambut pembebasan Soeheirie di depan Gedung Balai Kota Batavia. Kala itu, Soeheirie diperlakukan layaknya seorang pahlawan. Selang berapa lama, sejumlah koran di Batavia gencar memuat aktivitas Sakam di Banten. Bahkan, sejumlah warga mengaku telah melihat Sakam beraksi.
Karena semakin jengkel dengan ulah Sakam, kepolisian Batavia dan Serang kemudian menyelenggarakan sayembara untuk menangkap Sakam dengan imbalan 2.000 florin. Tergiur dengan hadiah itu, salah seorang teman satu sel dan sepelarian Sakam, Biroe, berkhianat. Ia memberi informasi keberadaan Sakam kepada Bupati Serang.

Biroe kemudian diperintahkan membunuh Sakam dengan cara meracuninya. Ia kemudian datang ke tempat persembunyian Sakam dengan membawa buah kecapi yang telah dibubuhi racun. Tak curiga, Sakam pun memakan buah pemberian sahabatnya itu dan langsung jatuh sakit.
Sakam kemudian ditangkap polisi pada tengah malam saat tengah tertidur lelap. Sakam kemudian tewas dalam perjalanan menuju Serang. Ia dihabisi di tengah perjalanan. Saat itu, leher sang bandit dijepit dengan bambu sampai mati. [ren]

|  Home  |  Hukrim  |  Politik  |  Olahraga  |  Pariwisata  |  Ekbis  |  Lifestyle  |  Hiburan  |  Teknologi  |  Opini  |  Foto  | 
|  Indeks  |  RSS  |  Video  |  Mobile  |  Redaksi  |  Disclaimer  | 
Copyright © 2011 ManadoNews.com, All rights reserved