Rabu, 23 Juli 2014
 
home / berita / nasional / beda mahfud md dan jimly soal status ketua mk
Hendro Melupakan Sakit demi Medali Emas Jalan Cepat
Polisi Tetapkan Empat Tersangka dalam Kerusuhan Palopo
Mantan Ketua Banggar Luncurkan buku Pengabdian di Tengah Prahara Korupsi
Tepergok Mesum di Masjid, Pasangan Muda Dikawinkan
Amplop Wartawan, Pemko Tegal Anggarkan Rp 3 Juta per Bulan
Lari Saat Nonton Judi Sabung Ayam Dwi Ditemukan Tewas di Sungai
Tertawa, Menyembuhkan tetapi Juga Bisa Mematikan
KPK Geledah Rumah LAR di Kebon Jeruk Dini Hari Tadi
Paceklik Emas di Hari Minggu, Indonesia Turun ke Peringkat Empat
Natal, Mengapa Pohon Cemara?
Beda Mahfud MD dan Jimly soal status ketua MK
Nasional | Jumat, 23 November 2012 | 10:21    Dibaca 256 kali    Komentar
Oleh : MN3, manadonews.com

 Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD mengaku tidak akan maju lagi sebagai ketua Mahkamah Konstitusi periode mendatang. Masa jabatan pria asal Madura, Jawa Timur tersebut akan rampung pada April 2013 mendatang.

 
"Dalam surat saya ke DPR, saya sudah menyatakan untuk berhenti dan saya meminta DPR untuk mencari penggantinya," ujar Mahfud di Gedung MK, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta, Rabu (21/11).
 
Mahfud menjelaskan, dia memilih untuk meneruskan hobinya yaitu mengajar meskipun ada kesempatan untuk mencalonkan diri kembali. "Saya sudah punya rencana pribadi untuk pulang ke kampus, untuk mencetak pendekar-pendekar hukum," katanya.
 
Selanjutnya, Mahfud tidak menampik adanya kemungkinan bagi dia untuk maju dalam bursa pencalonan Presiden 2014. "Tapi paling berpeluang untuk saya adalah membangun pendidikan hukum yang bukan hanya mencari dalil tetapi bisikan hati," ujarnya.
 
Mahfud menyatakan, pemilihan ketua MK akan dilakukan secara internal oleh hakim konstitusi. "Posisi ketua MK akan dipilih pada 31 Maret 2013 dan ketua MK dipilih sesama hakim," ujarnya.
 
Lalu bagaimana dengan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) sebelumnya, Jimly Ashiidiqie? Jimly waktu itu mundur dari keanggotaannya sebagai hakim MK dan memilih pensiun sebagai hakim konstitusi. Bedanya dengan Mahfud, Jimly mundur setelah dalam pemilihan, tidak terpilih sebagai ketua MK.
 
Mahfud MD terpilih menjadi Ketua MK menggantikan Jimly Asshiddiqie yang telah dua periode menjabat sebagai Ketua MK pada 19 Agustus 2009. Mahfud terpilih melalui pemungutan suara, sementara Abdul Muhktie Fadjar terpilih sebagai wakil Ketua MK.
 
Pemilihan Ketua dan Wakil Ketua Mahkamah Konstitusi dilakukan secara musyawarah dan mufakat. 9 Anggota Hakim Konstitusi tidak menemui kata sepakat siapa yang akan memimpin Mahkamah Konstitusi untuk periode 2009-2011. Selanjutnya pemilihan dilakukan dengan cara pemungutan suara.
 
Nah, setelah tidak terpilih sebagai ketua MK, Jimly menyatakan mundur. Jimly menyatakan, alasan kemunduran diri dari MK setelah mempertimbangkan usulan dan saran dari berbagai pihak, mulai para hakim, Sekjen MK, panitera, dan sejumlah karyawan MK.
 
"Mungkin para karyawan MK menjadi rikuh setelah saya tidak jadi ketua MK. Saya juga ikut rikuh," kata Jimly.
 
Jimly mengatakan, alasan pengunduran dirinya lebih bersifat psikologis, bukan teknis, apalagi politis. "Supaya pimpinan baru dan lainnya lancar, tidak rikuh," imbuhnya.
 
Mundurnya Jimly mengundang pro dan kontra. Salah satu anggota Komisi III DPR dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa, Imam Anshori Saleh. Dia menyayangkan pengunduran diri Jimly Asshidiqie dari posisinya sebagai Hakim Konstitusi di Mahkamah Konstitusi .
 
"Bagi kami di Komisi III DPR, khususnya saya pribadi, pengunduran diri Jimly Asshiddiqie sebagai Hakim Konstitusi, sebenarnya tak masalah. Itu hak pribadinya," ujarnya seperti ditulis Antara.
 
Akan tetapi, lanjutnya, jika pengunduran diri itu dilatarbelakangi oleh kenyataan tidak terpilihnya lagi dirinya sebagai Ketua MK, hal itu patut disayangkan.
 
"Adalah sangat patut disayangkan, kalau alasan pengundurannya itu cuma karena soal ini (tak terpilih lagi jadi Ketua MK). Artinya, dia bukan negarawan," ujar Imam Anshori Saleh.
 
Penelusuran merdeka.com, tak cuma sekali itu saja Jimly mundur dari jabatannya. Saat menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), Guru Besar Fakultas Hukum UI ini juga mengundurkan diri lantaran hendak maju sebagai pimpinan KPK. Saat itu, Jimly menyatakan, tidak mau kalau 'hanya' menjadi pimpinan KPK. Pria asal Palembang ini hanya mau jadi ketua KPK.
 
"Ya saya akan mengundurkan diri. Saya mau jadi Ketua, kalau tidak saya tidak mau," kata Jimly saat seleksi wawancara di gedung Kemenkum HAM, Jakarta, Kamis (26/8/2010).
 
Hingga akhirnya, Jimly tidak terpilih sebagai komisioner lembaga antikorupsi tersebut. Dan belum lama ini, Jimly terpilih sebagai Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP).
 
[did/merdeka]
|  Home  |  Hukrim  |  Politik  |  Olahraga  |  Pariwisata  |  Ekbis  |  Lifestyle  |  Hiburan  |  Teknologi  |  Opini  |  Foto  | 
|  Indeks  |  RSS  |  Video  |  Mobile  |  Redaksi  |  Disclaimer  |  Pedoman Media Siber  | 
Copyright © 2014 ManadoNews.com, All rights reserved