Rabu, 22 Mei 2013
home / berita / nasional / usaid luncurkan program air bersih di jawa timur
Freeport hentikan produksi, target tahunan dipastikan meleset
Digusur, warga Pulogadung telah diberi uang kerohiman Rp 25 juta
Proyek simulator belum jalan, BNI kabulkan kredit Budi Susanto
Tim SAR Temukan 5 Jenazah dari Reruntuhan Tambang Emas di Papua
Dahlan: Program direksi BUMN mengajar setahun jadi dua kali
Presiden Yudhoyono Tunjuk Chatib Basri Sebagai Menkeu
Presiden Perintahkan Investigasi Longsor di Wilayah Tambang Freeport
ICAIOS Adakan Konferensi Global Tentang Aceh dan Samudera Hindia
Penjara Sukamiskin Tampung Banyak Koruptor
Rata-rata pendidikan orang Indonesia 5,8 tahun atau tak lulus SD
USAID Luncurkan Program Air Bersih di Jawa Timur
Nasional | Kamis, 09 Agustus 2012 | 20:50    Dibaca 169 kali    Komentar
Oleh : Roland Sojow, manadonews.com
Banyak tempat, bahkan di kota-kota besar di Indonesia yang tidak memiliki akses terhadap air bersih. (Foto: dok).

Jawa Timur merupakan provinsi berpenduduk terpadat kedua di Indonesia dengan jumlah hampir 38 juta jiwa, menjadi salah satu indikator penyebab munculnya berbagai permasalahan kependudukan, khususnya terkait pemenuhan kebutuhan air bersih dan sehat bagi masyarakat.

Untuk itu, lembaga pembangunan internasional AS, USAID dengan salah satu afiliasinya untuk program air, sanitasi dan kebersihan perkotaan Indonesia (IUWASH), meluncurkan bantuan program air bersih di Jawa Timur, khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

Pada tahun ini, program tersebut ditujukan untuk enam kabupaten dan kota di Jawa Timur sebagai penerima bantuan tersebut, yaitu Surabaya, Probolinggo, kabupaten Lamongan, Mojokerto, Gresik dan Sidoarjo.

Direktur Umum PDAM Delta Tirta Sidoarjo, Abdul Basit Lao mengatakan, pertumbuhan penduduk yang lebih cepat dibanding pertambahan jumlah pelanggan, yang baru berjumlah sekitar 100.000 pelanggan, menjadi bukti masih sangat sedikit jumlah masyarakat yang terlayani kebutuhan air bersih dari pemerintah. Sidoarjo memiliki penduduk sekitar 1,9 juta.

“Cakupan layanan yang ada saat ini baru mencapai 30 persen. Kenapa sedemikian kecil, karena pertumbuhan penduduk di sana lebih cepat dari pertumbuhan pelanggan,” ujarnya.

Koordinator program IUWASH untuk regional Jawa Timur, Laksmi Cahyaniwati, mengatakan masyarakat berpenghasilan rendah menjadi sasaran utama program ini, karena banyak kendala yang dihadapi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), yang tidak memungkinkan untuk melayani kebutuhan masyarakat akan air bersih.

“Akhirnya muncul skema master meter untuk memberikan pelayanan bagi masyarakat yang tidak bisa diberikan pelayanan oleh PDAM. Contohnya adalah kawasan yang informal istilahnya, dimana tanahnya milik PT Kereta Api Indonesia, atau pengairan, dan PDAM tidak diperkenankan membuat sambungan langsung ke rumah,” ujar Laksmi.

“Tanpa sistem yang berbasis masyarakat seperti master meter ini, mereka tidak akan pernah mendapat air minum dari PDAM.”

Direktur Kantor Pengembangan USAID, John Hansen, mengatakan program penyediaan air bersih dengan penyambungan komunal melalui meteran induk yang telah dibuat diharapkan mampu meningkatkan pelayanan penyediaan air bersih untuk bahan baku air minum oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Pelayanan ini juga diharapkan mampu menjangkau masyarakat, yang tinggal di daerah pelosok dan sulit dijangkau dari pusat perkotaan, demi terpenuhinya kebutuhan air bersih yang berguna bagi kesehatan.

“Ada sebagian masyarakat yang tidak punya, tapi harus membayar banyak dari penjual air. Program ini baik untuk mereka karena orang bisa menerima air kapan saja,” ujarnya.(voa)

|  Home  |  Hukrim  |  Politik  |  Olahraga  |  Pariwisata  |  Ekbis  |  Lifestyle  |  Hiburan  |  Teknologi  |  Opini  |  Foto  | 
|  Indeks  |  RSS  |  Video  |  Mobile  |  Redaksi  |  Disclaimer  | 
Copyright © 2011 ManadoNews.com, All rights reserved