Rabu, 20 Agustus 2014
 
home / berita / nasional / rumah bersalin titik kritis operasi sindikat perdagangan bayi
Hendro Melupakan Sakit demi Medali Emas Jalan Cepat
Polisi Tetapkan Empat Tersangka dalam Kerusuhan Palopo
Mantan Ketua Banggar Luncurkan buku Pengabdian di Tengah Prahara Korupsi
Tepergok Mesum di Masjid, Pasangan Muda Dikawinkan
Amplop Wartawan, Pemko Tegal Anggarkan Rp 3 Juta per Bulan
Lari Saat Nonton Judi Sabung Ayam Dwi Ditemukan Tewas di Sungai
Tertawa, Menyembuhkan tetapi Juga Bisa Mematikan
KPK Geledah Rumah LAR di Kebon Jeruk Dini Hari Tadi
Paceklik Emas di Hari Minggu, Indonesia Turun ke Peringkat Empat
Natal, Mengapa Pohon Cemara?
Rumah Bersalin titik kritis operasi sindikat perdagangan bayi
Nasional | Senin, 18 Februari 2013 | 17:13    Dibaca 350 kali    Komentar
Oleh : MN3, manadonews.com
Rumah Bersalin merupakan salah satu titik \'paling kritis\' dalam operasi sindikat perdagangan bayi dimana anak baru lahir kerap berpindah tangan dari orang tua pada anggota sindikat.
Setidaknya puluhan kasus penculikan bayi maupun bujuk rayu sindikat sehingga bayi jatuh ke tangan kelompok haram itu menunjukkan lokasi Rumah Bersalin nampaknya kerap dipilih sindikat.
 
"Tahun lalu saja dari 182 kasus anak hilang, termasuk bayi, yang masuk ke kami, 37 kasus terjadi di sekitar rumah sakit," kata Arist Merdeka Sirait, Komisioner Komnas Perlindungan Anak.
Pengalaman Jaja Nurdiansyah menunjukkan fasilitas bersalin kerap tak dilengkapi fasilitas memadai seperti tenaga sekuriti, kamera CCTV dan kontrol perawat.
"Cuma lima menit, tahu-tahu sudah hilang. Dilacak ya enggak ketahuan orang kamera CCTV kaga ada," seru Jaja menahan kekesalan.
Anak pertama pasangan Jaja-Syifa Maysatul Khairat, Cello Aditia hilang diculik suster misterius dari RS Ibu dan Aanak Siti Zachroh pada 15 September lalu hanya berselang beberapa saat menjelang kepulangan dari RS.
"Waktu anak saya diminta \'suster\' itu katanya mau diperiksa dokter, ya siapa yang curiga?", tambah Jaja.
Bayi M, perempuan yang tinggal di Kelurahan Kamal Kalideres Jakarta Barat, juga dipisahkan darinya saat berada di depan tempat bersalin milik seorang bidan yang membuka praktek, sekitar satu kilometer dari rumah kontrakan M.
"Bayi saya diminta mau digendong salah satu ibu (anggota sindikat), terus saya diminta naik ojek ke arah sana tapi anak saya dibawa ke arah sebaliknya," kata istri supir angkot ini terbata-bata.
 
Informan
 
Komnas PA juga mencatat kasus tak hanya terjadi di rumah bersalin milik swasta, tapi juga RSB milik pemerintah.
Pasangan Muhammad Yahron dan Dwi Setyowati kehilangan Mohammad Zain Fazza Azahra, yang baru berusia dua hari saat hilang dibawa seorang berpakaian suster pada tanggal 22 Oktober 2009.
Pasangan ini menggugat rumah sakit senilai Rp 5 miliar karena dianggap lalai, termasuk dengan menawarkan \'bayi pengganti\' dan menyebut insiden penculikan itu sebagai \'musibah\'.
 
Bayi perempuan putri Irmawati, juga hilang saat masih menjalani perawatan pasca lahir di RSU Wahidin Sudiro Husodo Makassar. Beruntung rumah sakit pemerintah di Makassar itu memilik perangkat CCTV sehingga dalam tiga hari penculik yang berstatus calon perawat dapat dibekuk.
Banyaknya kasus \'perawat gadungan\' yag terlibat dalam insiden penculikan ini menurut Arist Merdeka menunjukkan sindikat bekerja rapi, bahkan bukan tak mungkin melibatkan petugas RS sendiri.
"(Bayi) Cello itu hanya lima menit berhasil diambil, lima menit! Bagaimana sindikat tahu kalau saat itu pengawasan sedang lemah, ibunya sedang ke kamar mandi, keluarga tak ada? Sedikitnya pasti ada informan, orang dari dalam," tuding Arist.
Jaja dan Syifa, orang tua Cello, juga menuding rumah sakit lepas tangan atas kelalaian fatal ini.
"Malah (RSIA) Siti Zachroh itu bilang \'bapak sama ibu kan masih muda, nanti juga bisa punya anak lagi\', coba bayangkan perasaan kami dengar omongan begitu," kata Jaja geram.
Keluarga Jaja saat ini tengah berencana mengajukan gugatan hukum, dengan dasar keteledoran RS dalam menjaga bayi.
Saat BBC mengunjungi rumah sakit yang terletak di jalan utama Kecamatan Tambun Selatan Kabupaten Bekasi ini, petugas sekuriti mengatakan kini rumah sakit itu sudah dilengkapi CCTV. Tetapi permintaan untuk bertemu direktur RS, Dr Nurul Isfiyani, tak dapat terlaksana dengan alasan yang bersangkutan sedang tak ada di tempat.
 
Tanggung jawab pemerintah
 
Namun dalam berbagai kasus yang dilaporkan media massa, belum terdengar ada sanksi keras dari otoritas tertinggi lembaga rumah sakit/rumah bersalin di Indonesia, Departemen Kesehatan.
"Kenapa Depkes diam saja? Mereka keluarkan izin buat RS, buat RSIA, buat bidan, mana kontrolnya?" tanya Arist Merdeka Sirait.
Mulai dari fasilitas tanpa CCTV dan satpam yang cukup, serta bukti kelalaian berupa kasus bayi hilang mestinya cukup membuat Kementrian Kesehatan bertindak, tambah Arist.
"Saya juga sudah pernah sampaikan pada pejabat terkait, didiamkan saja kan katanya tidak berwenang."
Kasus hilangnya bayi di tempat layanan kesehatan ini menurut Arist mestinya berakibat sangat serius termasuk dengan menutup operasi Rumah Sakit terkait sebagai sanksi.
 
Tetapi anggapan Kementrian Kesehatan berpangku tangan melihat berbagai kasus bayi hilang di lokasi layanan kesehatan ini dibantah.
"Kami selalu pantau dan catat, tidak benar kalau kami diam saja," kata Supriantoro, Sekjen Kemenkes.
"Masalahnya Kami hanya punya otoritas terhadap RS kategori A, sedang yang lainnya (B hingga D) ada di Dinkes propinsi dan daerah."
Meski demikian menurut Supriantoro Kementrian telah mengirim surat edaran, melakukan teguran dan memerintahkan dinas terkait di daerah bertindak lebih tegas.
Kementrian juga tengah menyiapkan edaran \'lebih keras\' untuk antisipasi pelanggaran berikutnya.
"Tolong kabari saya kalau ada RS tidak ada satpamnya, atau CCTV-nya, ini soal patient safety kita mau tertibkan," tambahnya.(bbc)
|  Home  |  Hukrim  |  Politik  |  Olahraga  |  Pariwisata  |  Ekbis  |  Lifestyle  |  Hiburan  |  Teknologi  |  Opini  |  Foto  | 
|  Indeks  |  RSS  |  Video  |  Mobile  |  Redaksi  |  Disclaimer  |  Pedoman Media Siber  | 
Copyright © 2014 ManadoNews.com, All rights reserved